Menenun merupakan sebuah tradisi yang jamak dilakukan di hampir seluruh pelosok Tanah Air, termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tepatnya di daerah Muntok, Kabupaten Bangka Barat.

Konon, pada abad ke-18 di kota pelabuhan nan ramai di daerah Muntok, menenun Cual adalah aktivitas yang sering dilakukan oleh para perempuan bangsawan keturunan Ence Wan Abdul Hayat di Kampung Petenon.

Kain Cual adalah kain adat dari Kota Muntok yang sebenarnya berarti proses celupan awal pada benang yang akan diwarnai.

Salah satu kekhasan Tenun Cual adalah penggunaan benang limar  yang dibuat sendiri oleh sang perajin tenun cual atau juga penggunaan benang emas yang dibeli dari luar negeri seperti India dan China.

Bagi masyarakat Bangka, terutama warga Muntok, Kain Cual memiliki nilai filosofis tersendiri.

Teknik pembuatan Kain Cual yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan kehalusan tenunan, tingkat kerumitan motif dan warna yang indah pada tenun cual merupakan refleksi perjalanan religius Sang penenunnya.

Sinta, putri pertama sekaligus murid pertama dari Maestro Kain Cual Bangka, Maslina Yazid menjelaskan kekuatan Tenun cual berasal dari tekstur kainnya yang begitu halus dan warna celupan benangnya yang tidak berubah.

"Kain Cual juga memiliki keragaman motif yang seolah-olah terlihat timbul, jika dipandang dari kejauhan, untuk diperlukan ketekunan dari penenunnya" kata Sinta di Pangkalpinang beberapa waktu yang lalu.

Karena nilai filosofisnya yang tinggi tersebut, Cual memiliki fungsi sosial tertentu bagi masyarakat Bangka. Salah satunya sebagai pakaian kebesaran lingkungan Bangsawan Muntok, pakaian pengantin dan pakaian pada hari-hari kebesaran Islam.

"Dahulu, Kain Cual juga dipakai sebagai mahar pernikahan yang menggambarkan status sosial dari sang pemberi hantaran," kata Sinta.


teknik dan motif
 

Sinta menjelaskan, proses pembuatan tenun cual berbeda dari pembuatan kain tenun lain di tanah air karena pembuatannya yang sangat rumit dengan menggunakan bahan-bahan yang cukup mahal.

"Kain Cual ada yang menggunakan benang emas yang terbuat dari lapisan emas asli seberat 18 karat yang diikatkan di kainnya," kata Sinta.

Sementara, teknik tenun yang digunakan, kata Sinta adalah perpaduan antara teknik sungkit dan tenun ikat.

"Teknik tenun ikat tersebut merupakan pengetahuan yang didapat para perempuan bangsawan Muntok dari dari budaya China yang waktu itu masuk ke Bangka," katanya.

Motif pada Kain Cual memiliki berbagai makna yang mencerminkan kekayaan budaya dan filosofi warga Muntok.

"Beberapa contoh motif pada Cual adalah motif bunga yang mencerminkan kesucian, keanggunan rezeki dan segala kebaikan, contoh lain adalah motif bebek yang mencerminkan persatuan dan kesatuan," ujar Sinta.

Selain itu, ada bebrapa motif Cual lain seperti Kembang Sumping, Ubur-ubur, Merak, Gajah Mada, Kembang Setangkai dan Kembang Rukem, Bebek Setaman, Kembang Rukem Berantai dan Kembang Setaman, Kucing tidur, Bebek-bebekan, Naga bertarung, Kembang Kenanga dan lain-lain.

Motif-motif tersebut telah dipatenkan oleh perajin Cual MAslina guna menghindari adanya pencurian hak cipta.

Karena kekhasan pengerjaan dan bahannya, harga Kain Cual produksi tenunan menggunakan tangan bisa dibilang cukup tinggi.

Untuk Cual kualitas satu dengan bahan baku kain sutera tanpa campuran, satu helai selendang berukuran besar dihargai sebesar Rp7,5 juta hingga Rp19 juta.

Sedangkan untuk Kain Cual kualitas nomor dua dihargai sekitar Rp2,5 juta hingga Rp5 juta ke atas, untuk kelas nomor tiga dihargai berkisar Rp1,2 juta sampai Rp1,8 juta.

Tradisi kerajinan Kain Cual sempat mandeg saat pecahnya Perang Dunia pada tahun 1914 hingga 1918an.

Perang Dunia memutus pasokan bahan baku tenun cual yang banyak didatangkan dari luar daerah, bahkan luar negeri. Hal tersebut membuat para perajin cual meninggalkan tradisi tersebut.

Meski demikian, pada tahun 1990, Dinas Perindustrian Kota Pangkalpinang kembali membangkitkan tradisi tersebut dengan membentuk kelompok usaha kerajinan cual yang diketuai oleh Maslina.

Sejak saat itu, tradisi tenun Cual kembali hidup setelah Maslina berinisiatif membentuk Koperasi Tenun Kain Cual Khas Bangka.

Pada mulanya, guna membangkitkan kembali Kain Cual, Maslina harus melakukan perburuan Kain Cual kuno ke kampung-kampung di Pelosok Babel.

"Waktu itu Ibu harus mempelajari motif tradisional Cual lalu memodifikasinya atau dikombinasi dengan motif lain," katanya.

Setelah berhasil menciptakan motif baru, Maslina mulai menenun dan menyusun dokumentasi pola-pola motif Cual tersebut.

Maslina juga mulai mengajarkan keterampilan menenun kain cual.

"Empat orang putri Ibu menjadi murid pertama yang diajari cara menenun, selain itu Ibu juga mengajari cara menenun pada ibu-ibu dan remaja putri di sekitar rumah," katanya.

    
Geliat industri

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus mendorong tumbuhnya Industri Kecil Menengah (IKM) seperti kerajinan tenun Cual Maslina.    

Hal tersebut terbukti dengan semakin tumbuhnya IKM di wilayah tersebut. Selama 2012, IKM di Babel bertambah 130 unit atau sebanyak 6.773 unit dibandingkan tahun sebelumnya 6.643 unit.

Kabid IKM Disperindag Babel, Darnis Rachmiyati menjelaskan pertumbuhan IKM tersebut juga diikuti meningkatnya nilai investasi pada 2012 sebesar Rp154.385.961 dibandingkan tahun sebelumnya Rp107.433.444.

"Nilai investasi terbesar untuk IKM di sektor industri bahan kimia dan bahan bangunan mencapai Rp79.424.605, selanjutnya industri logam dan elektronik, pangan, sandang dan industri kerajinan," ujarnya.

Ia mengatakan, sesuai program nasional dalam pengembangan usaha baru, jadi kami mengoptimalkan pengembangan usaha baru ini melalui pembinaan, pelatihan dan memfasilitasi pelaku usaha mendapatkan pinjaman di perbankan untuk memperkuat modal usahanya.

"Pada tahun ini, diperkirakan pengembangan dan pertumbuhan IKM akan terus meningkat karena minat masyarakat membuka usaha baru dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga cukup tinggi," ujarnya.

Menurut dia, pengembangan IKM yang disarankan pemerintah yaitu dengan bahan baku yang mudah dicari ataupun produk lokal dan potensi sumber daya masyarakat (SDM) yang mendukung pengembangan industri tersebut.

Jika semua sektor itu saling mendukung, maka untuk mengembangkan IKM di Babel akan berjalan sesuai dengan rencana awal.

Sementara itu, yang menjadi permasalahan saat ini adalah masih kurangnya SDM yang mampu dan memiliki niat untuk bekerja keras dalam mengembangkan IKM.

"Sebenarnya permasalahan mereka sangat kompleks dan bermacam-macam seperti kurangnya minat untuk belajar, kekurangan dana untuk mengembangkan usaha dan masih banyak alasan lainnya," ujarnya.

Ia mengatakan, sebenarnya permasalahan itu semua bisa diatasi tergantung minat dan niat seseorang untuk meningkatkan kualitas IKM tersebut.

Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarababel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar