Sabtu, 21 Oktober 2017

Koalisi Masyarakat Tagih Percepat Ungkap Penyerangan Novel

id NOVEL
Koalisi Masyarakat Tagih Percepat Ungkap Penyerangan Novel
Menemui Novel di Singapura Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan saat melayani wawancara khusus dengan tim ANTARA News di sebuah tempat di Singapura, Selasa (15/8/2017). (ANTARA News/Monalisa)
Jakarta (Antara Babel) - Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menagih kepada Presiden Joko Widodo untuk segera mempercepat pengusutan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan.

Sikap itu sebagai respons belum ditemukan pelaku penyerangan Novel setelah enam bulan penyerangan terhadap penyidik KPK itu dengan menggunakan air keras pada Selasa (11/4) subuh.

"Pada intinya kedatangan kami menagih bukan hanya pimpinan KPK, tetapi Presiden karena kami luput melihat respons yang cepat terkait penanganan perkara juga dari kepolisian," kata peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Lalola Easter, di gedung KPK, Jakarta, Rabu.

Lalola menyatakan bahwa sudah banyak info terdapat kejanggalan terkait penyerangan Novel tersebut. 

"Padahal sudah banyak info yang diketahui aparat penegak hukum atau publik secara umum soal kejanggalan teror Novel. Publik tidak boleh dibiarkan lupa," kata Lalola.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan pula kekecewaannya terhadap aparatur hukum karena belum bisa tuntaskan kasus Novel itu.

"Padahal jika dilihat model kasus ini sebenarnya mudah saja untuk diungkap, clue-nya itu sudah banyak berserakan tetapi sampai saat ini tak tuntas. Insya Allah Novel mulai terang, tetapi kasusnya tidak terang sama sekali," kata Dahnil.

Ia pun menyatakan pesimistis kasus penyerangan Novel itu bisa diungkap oleh kepolisian.

"Saya pribadi pesimistis, sehingga harapan kami kami gantungkan kepada orang yang paling berkuasa yaitu Presiden. Kami berulang kali meminta dibentuk TGPF. Jadi, kalau pak Jokowi ingin tuntaskan utang kampanye beliau tentang agenda pemberantasan korupsi, maka harusnya TGPF ini bisa jadi jalan untuk tuntaskan kasus ini," ujarnya pula.

Novel Baswesdan melalui video teleconference dari Singapura menyatakan kekecewaannya bahwa sampai saat ini kasus penyerangan terhadap dirinya belum terungkap.

"Saya juga ingin sampaikan masalah ini sampai sekarang tidak diungkap dan saya juga belum mendapat rencana selanjutnya, yaitu dibentuk TGPF," kata Novel.

Ia juga menyampaikan pada semua pihak yang fokus pada pemberantasan korupsi agar tetap bersemangat dan berani untuk berjuang melawan korupsi.

Selain itu, Novel juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan setelah kasus penyerangan dengan air keras tersebut.

"Saya ucapkan terima kasih atas dukungan terkait apa yang menimpa kepada saya, penyerangan yang dilakukan pada enam bulan lalu itu," ujar Novel pula.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menyatakan lembaganya akan mendatangi Mabes Polri untuk menanyakan kembali terkait perkembangan pengusutan kasus penyerangan Novel. 

"Ya nanti kami lihat kembali, mungkin kami akan datang ke sana lagi untuk menanyakan kembali lagi bagaimana perkembangannya," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan di gedung KPK, Jakarta, Selasa (10/10). 

Novel dijadwalkan akan menjalani operasi mata tahap kedua pada salah satu rumah sakit di Singapura, Sabtu (21/10) mendatang.

Operasi mata Novel tahap pertama telah dilakukan pada Kamis (17/8) lalu.

Novel Baswedan disiram air keras oleh dua orang pengendara motor pada 11 April 2017 seusai Salat Subuh di Masjid Al-Ihsan dekat rumahnya.

Akibatnya, mata Novel mengalami kerusakan, sehingga ia harus menjalani perawatan di Singapura sejak 12 April 2017.

Novel adalah salah satu penyidik senior KPK antara lain menangani kasus korupsi dalam pengadaan KTP-elektronik.

Editor: Riza Mulyadi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga