Sabtu, 21 Oktober 2017

Jurusan Ilmu Politik UBB Bangun Demokrasi Lokal Lewat "Kampung Demokrasi"

id Dayat UBB
Jurusan Ilmu Politik UBB Bangun Demokrasi Lokal Lewat
Para mahasiswa dan dosen Jurusan Ilmu Politik UBB yang terlibat dalam pengawasan partisipatif pada Pilkades Serentak 2017 di Kabupaten Bangka, Kamis (12/10). (Istimewa)
Balunijuk, Kabupaten Bangka (Antara Babel) - Pemilihan kepala desa (Pilkades) Serentak di Kabupaten Bangka yang dilaksanakan pada Kamis (12/10) menggugah mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (UBB) untuk menjadikannya sebagai bentuk program pengabdian dunia kampus terhadap pembelajaran demokrasi di level desa.

Melalui agenda "Kampung Demokrasi: Pengabdian Kepada Masyarakat Jurusan Ilmu Politik UBB" para mahasiswa jurusan ilmu politik beserta dosen menggagas pengawasan partisipatif Pilkades Serentak 2017 di Kabupaten Bangka.

Menurut dosen Jurusan Ilmu Politik UBB Muhammad Anshori selaku penanggung jawab kegiatan, pengawasan partisipatif kali ini merupakan bentuk eksplorasi model demokrasi di arena lokal.

"Dengan kegiatan ini kita berharap bisa mendapatkan banyak informasi terkait dengan proses elektoral di level desa di Kabupaten Bangka, seperti angka partisipasi politik, proses kandidasi, dan proyeksi analisis aktor (kandidat) yang terpilih dalam menjalankan visi misinya di masa mendatang," katanya.

Di luar dari informasi yang diharapkan tadi, juga ada beberapa catatan sementara yang dapat disampaikan meskipun masih bersifat spekulatif dan terlalu dini untuk disimpulkan.

Menariknya, menurut Muhammad Anshori, berdasarkan beberapa informasi awal yang didapatkan di lapangan, pihaknya menemukan beberapa kecenderungan.

Pertama, proses sirkulasi elit politik di level desa masih berada dalam lingkaran kekuasaan yang memang sudah mapan.

Kedua, proses pilkades di dua desa yang berbeda menghadirkan corak yang khas. Desa Balunijuk, misalnya, menyajikan menu kandidasi yang beragam, yakni terdiri atas empat calon yang kesemuanya didominasi oleh kaum laki-laki.

Sementara di Desa Dwi Makmur yang mayoritas beretnis Tionghoa justru hanya menghadirkan dua kandidat. Yang menarik di desa ini justru ketika kontestasi menghadap-hadapkan kandidat perempuan melawan laki-laki.

"Tentu saja secara politik fenomena ini memiliki arti dan penjelasan tersendiri. Misalnya, apakah argumentasi dan kalkulasi yang melatarbelakangi munculnya dua kandidat. Pastinya memiliki penjelasannya masing-masing," kata Muhammad Anshori.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Jurusan Ilmu Politik UBB, Novendra Hidayat mengatakan temuan awal tersebut akan dielaborasi lagi dengan berbagai informasi yang sudah didapatkan.

“Agar mendapatkan hasil penelitian yang maksimal, Laboratorium Ilmu Politik yang ada menjadi media untuk menguji berbagai kemungkinan dalam melihat fenomena politik lokal. Tentu saja kami hanya bisa menjelaskan fenomena tersebut dalam perspektif politik,” ujarnya.

Ke depan Jurusan Ilmu Politik UBB berharap kegiatan semacam ini dapat dilakukan dalam skala yang lebih luas lagi. "Kami berharap kegiatan semacam ini tidak hanya di Kabupaten Bangka saja,” kata Novendra Hidayat.

*) Dosen Jurusan Ilmu Politik UBB

Editor: Riza Mulyadi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga